Maras Taun Tetap Lestari di Belitung, Simbol Syukur dan Identitas Budaya Masyarakat

BANGKAUPDATE.COM, BELITUNG — Tradisi Maras Taun kembali digelar oleh masyarakat Dusun Ulim, Desa Lassar, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus upaya menjaga warisan budaya leluhur, Minggu (5/4/2026).

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat setempat tetap mempertahankan tradisi ini sebagai bagian penting dari identitas budaya. Maras Taun tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga mengandung nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan yang kuat.

Bacaan Lainnya

Rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi pantun berebut lawang, yakni berbalas pantun sebagai simbol penghormatan dalam menyambut tamu. Prosesi ini menjadi bagian penting dalam adat yang terus dilestarikan secara turun-temurun.

Selain itu, ritual tumbuk lesung turut menjadi daya tarik utama dalam perayaan tersebut. Kegiatan menumbuk padi secara bersama-sama ini melambangkan rasa syukur, kebersamaan, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Ketua Forum Kedukunan Adat se-Belitung (FKAB), Mukti Maharip mengatakan bahwa tradisi Maras Taun merupakan bagian dari warisan budaya yang harus terus dijaga.

“Maras Taun ini adalah adat budaya Belitung yang terus kami jaga. Kami berharap dukungan pemerintah agar tradisi ini tetap terpelihara dan semakin dikenal,” ujarnya.

Perayaan ini juga dihadiri oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, yang menilai tradisi Maras Taun memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat.

“Maras Taun memiliki nilai spiritual sebagai bentuk rasa syukur dan harapan masyarakat kepada Allah SWT. Tradisi ini merupakan cerminan kearifan lokal yang harus terus kita jaga bersama,” kata Gubernur Hidayat.

Ia juga menekankan pentingnya peran tokoh adat dalam menjaga keharmonisan sosial di tengah masyarakat.

“Saya bangga bisa hadir di tengah masyarakat dan para dukun kampung. Tugas kita bersama menjaga desa agar tetap aman dan harmonis,” ujarnya.

Melalui tradisi ini, masyarakat Belitung tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan identitas daerah agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *